Pages

Subscribe:

Kamis, 28 Juni 2012

Skripsi PTK Bab 2

BAB II
KAJIAN TEORI

A.       Kerangka Teoritis
       Untuk mendukung dan memperjelas serta memperkuat penelitian yang dilakukan, maka penulis akan menyajikan dan membahas beberapa kajian teori yang mengarah kepada judul skripsi diantaranya adalah tentang pengertian penguasaan, belajar dan pembelajaran, hasil belajar, metode Sinergetik Teaching, dan sejarah Nabi, pembahasannya adalah sebagai berikut.
1.      Pengertian Penguasaan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia penguasaan diartikan sebagai proses, cara, perbuatan menguasai atau menguasakan sesuatu, pemahaman atau kesanggupan untuk menggunakan (pengetahuan, kepandaian, dsb)[1]. Jadi, pengertian penguasaan di dalam tulisan ini adalah penguasaan seorang siswa terhadap materi yang sudah dipelajarinya, sehingga ia menjadikan materi pembelajaran yang telah dipelajarinya itu sebagai ilmu pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap dalam kehidupannya sehari-hari.
2.      Belajar dan Pembelajaran
Penguasaan sangat erat hubungannya dengan belajar dan hasil belajar, karena seorang siswa yang belajar pasti ditekankan kepada mereka untuk menguasai materi yang dipelajari, begitu juga dengan hasil belajar. Siswa yang belajarnya baik maka akan memperoleh penguasaan materi pembelajaran dengan baik dengan demikian jika siswa telah menguasai materi pembelajaran dengan baik maka baik pulalah hasil belajarnya. Maka oleh karena itu di bawah ini penulis akan sajikan tentang pengertian belajar, pembelajaran dan pengertian hasil belajar yang dikutip dari beberapa ahli diantaranya adalah sebagai berikut.
1.      Kadar M.Yusuf, dalam bukunya Tafsir Tarbawi mengatakan.
“Paling tidak ada dua istilah yang digunakan al-Qur’an yang berkonotasi belajar, yaitu ta’allama dan darasa. Ta’allama secara harfiah dapat diartikan kepada “menerima ilmu sebagai akibat dari suatu pengajaran”. Dengan demikian, “belajar” sebagai terjemahan dari ta’allama dapat didefinisikan kepada perolehan ilmu sebagai akibat dari aktivitas pembelajaran. Atau dengan perkataan lain, belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan seseorang di mana aktivitas itu membuatnya memperoleh ilmu. Sedangkan darasa yang berarti “mempelajari” atau tadrusuna pertama bermakna belajar dan yang kedua bermakna tujuan belajar dan mengajar, yaitu “terbentuknya insane rabbani”. Berdasarkan konsep ta’allama dan darasa di atas, maka hakekatnya belajar itu adalah pencarian dan perolehan ilmu di mana ia mendatangkan pengaruh atau perubahan kepada sipelajar[2]. Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan dan belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamaiah”[3].

Jadi, pengertian belajar sebagaimana dijelaskan di atas adalah proses pencarian dan perolehan ilmu melalui kegiatan atau prosedur latihan di suatu tempat maupun di lingkungan yang dapat mendatangkan perubahan perilaku bagi sipelajar (siswa).
2.      Tohirin, dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam mengatakan bahwa. “Belajar dapat juga diartikan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku baru yang secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”[4].
3.      Hujair AH. Sanaky, dalam bukunya yang berjudul Media Pembelajaran mengatakan bahwa :
“Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar (siswa), pengajar (guru), dan bahan ajar (materi pelajaran)[5]. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan”[6].
Dari penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan pelatihan dan belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamaiah. Sedangkan pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar (siswa), pengajar (guru), dan bahan ajar (materi) pelajaran dalam waktu tertentu.
3.      Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar siswa sangat erat pula hubungannya antara belajar dan mengajar. Hasil belajar siswa dengan belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan. Belajar mengarah kepada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek dalam belajar. Sedangkan mengajar berorientasi pada apa yang seharusnya dilakukan seseorang guru sebagai pengajar. Dua konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru sebagaimana dikatakan di atas terpadu dalam satu kegiatan. Diantara keduannya itu terjadi interaksi dengan guru. Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar harus bisa mendapatkan hasil, juga melalui kreatifitas seseorang itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar. Untuk lebih jelasnya di bawah ini penulis paparkan penjelasan tentang pengertian hasil belajar sebagaimana dijelas oleh Nana Sudjana di dalam bukunya yang berjudul Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar sebagai berikut.
“Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pengajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima perlakukan dari pengajar (guru),  seperti yang dikemukakan oleh Sudjana.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Menurut Horwart Kingsley membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (a). Keterampilan dan kebiasaan, (b). Pengetahuan dan pengarahan, (c). Sikap dan cita-cita[7].
Sedangkan menurut Gagne membagi lima kategori hasil belajar, Yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris. Dalam system pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
Ranah psikomotoris berkenaan denganhasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni (a) gerakan reflex, (b) ketrampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perceptual, (d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretative.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai bahan pengajaran” [8].

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa baik melalui kognitif, afektif dan psikomotorik setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan atau mengimpelentasikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Adapun factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa sebagaimana dijelaskan oleh Nana Sudjana di dalam bukunnya Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar yang diambil dari Internet sebagai berikut.
“Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 1989 : 39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh Clark (1981 : 21) menyatakan bahwa hasil belajar siswa disekolah 70 % dipengaruhi oleh  kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan. Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran (Sudjana, 2002 : 39). "Belajar  adalah suatu perubahan perilaku, akibat interaksi dengan lingkungannya" (Ali Muhammad, 204 : 14). Perubahan perilaku dalam proses belajar terjadi akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi biasanya berlangsung secara sengaja. Dengan demikian belajar dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya apabila terjadi perubahan dalam diri individu maka belajar tidak dikatakan berhasil. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kamampuan siswa dan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik)[9].
Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif”[10].

Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan.
5.      Sejarah/Kisah Nabi
Sejarah Nabi atau kisah Nabi adalah kejadian yang terjadi pada masa lalu, pada masa dimana Allah SWT mengutus para Nabi ke dunia untuk membimbing umat manusia kembali kepada jalan yang benar. Dimana pada saat itu umat manusia tidak berada pada jalan yang benar yakini, mereka menyembah selain Allah SWT dan melakukan dosa-dosa dan ma’siat.
Berhubung kisah para Nabi tersebut penuh dengan suri tauladan maka di sekolah sebagai pencetak generasi maka perlu kiranya dipelajari dan diceritakan kepada siswa dengan harapan mereka kelak berperilaku sama sebagaiman yang dicontohkan oleh para Nabi tersebut.
Nah, untuk itu di bawah penulis akan sampaikan tentang pengertian sejarah Nabi dan kegunaan mempelajarinya yang diambil dari Internet.  
“Kata sejarah secara bahasa berasal dari bahasa Arab, dari kata : شجرة , yang berarti pohon. Secara istilah sejarah adalah proses pertumbuhan dan perkembangan manusia dari semenjak lahir sampai sekarang, atau proses pertumbuhan dan perkembangan suatu negara dari semenjak lahir (proklamasi) sampai sekarang. Sejarah juga berarti riwayat masa lampau yang benar terjadi[11].
Beberapa para ahli memberikan definisi tentang sejarah di antaranya adalah ; Menurut M Yamin, sejarah adalah ilmu pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan dengan cerita bertarikh sebagai hasil penfsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada waktu yang telah lampau atau tanda-tanda yang lain[12]. Menurut Roeslan Abdul Gani, mengemukakan bahwa sejarah ialah ilmu yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadiannya; dengan maksud untuk menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya, untuk dijadikan perbendaharaan-pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan masa sekarang serta arah progress masa depan. Menurut Moh. Yamin, SH  memberikan pengertian sejarah ialah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan kenyataan. Menurut Ibnu Khaldun, mendefinisikan sejarah sebagai catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu[13].
Sejarah atau kisah memilki beberapa fungsi, di antaranya : (1) Untuk meneguhkan hati manusia, pembuktian kebenaran serta pengajaran dan peringkatan, sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 120 yang berbunyi ;

yxä.ur Èà)¯R y7øn=tã ô`ÏB Ïä!$t6/Rr& È@ߍ9$# $tB àMÎm7sVçR ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù 4 x8uä!%y`ur Îû ÍnÉ»yd ,ysø9$# ×psàÏãöqtBur 3tø.ÏŒur tûüÏYÏB÷sßJù=Ï9 ÇÊËÉÈ  

Artinya; “dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah-kisah itu  Kami teguhkan hatimu, dan dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasehat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (2) Sebagai pengajaran dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, sebagai mana firman Allah di dalam surat Yusuf ayat 111 yang berbunyi;
ôs)s9 šc%x. Îû öNÎhÅÁ|Ás% ×ouŽö9Ïã Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# 3 $tB tb%x. $ZVƒÏtn 2uŽtIøÿム`Å6»s9ur t,ƒÏóÁs? Ï%©!$# tû÷üt/ Ïm÷ƒytƒ Ÿ@ÅÁøÿs?ur Èe@à2 &äóÓx« Yèdur ZpuH÷quur 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÊÊÊÈ  
Artinya; “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.
Adapun tujuan mempelajari sejarah atau kiasah Nabi adalah (1) Memelihara kemurnian sejarah dari upaya-upaya penyimpangan sejarah yang dilakukan oleh orang-orang kafir, sebagai mana Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 126 yang berbunyi:
Ÿwurr& tb÷rttƒ óOßg¯Rr& šcqãZtFøÿムÎû Èe@à2 5Q$tã ¸o§¨B ÷rr& Éú÷üs?§tB §NèO Ÿw šcqç/qçGtƒ Ÿwur öNèd šcr㍞2¤tƒ ÇÊËÏÈ  
Artinya  dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?”.
Yang dimaksud dengan ujian disini ialah: musibah-musibah yang menimpa mereka seperti terbukanya rahasia tipu daya mereka, pengkhianatan mereka dan sifat mereka menyalahi janji. (2) Untuk menanamkan pemahaman secara ilmu dan amal tentang sejarah dari masa ke masa. (3) Memberikan wawasan yang luas mengenai pemahaman sejarah baik itu tentang sejarah manusia, sebuah negara maupun dien islam khususnya di Indonesia. (4) Mempertahankan eksistensi sebuah keyakinan dari upaya-upaya orang kafir yang hendak meruntuhkannya[14].
Selain sejarah terdapat juga kata kisah, sejarah dan kisah memiliki persamaan, karena sama-sama menceritakan kejadian atau hal ihwal manusia pada masa lalu berasal dari bahasa Arab yang bentuk jama’nya, yaitu qishah yang berarti kisah, cerita, berita, keadaan atau tatabbu al-atsar (napak tilas/mengulang kembali masa lalu). Arti ini diperoleh dari Al-Qur’an pada surat Al-Kahfi (18) ayat 64 yang berbunyi :
tA$s% y7Ï9ºsŒ $tB $¨Zä. Æ÷ö7tR 4 #£s?ö$$sù #n?tã $yJÏdÍ$rO#uä $TÁ|Ás% ÇÏÍÈ  




Artinya: Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
Secara etimologi (bahasa), al-qashash juga berarti urusan (al-‘amr), berita (khabar), dan keadaan (hal). Dalam bahasa Indonesia, kata itu diterjemahkan dengan kisah yang berarti kejadian (riwayat , dan lain sebagainya). Adapun secara istilah (terminologi), kisah menurut Muhammad Khalfullah dalam Al-Fann Al-Qashashiy fi Al-Qur’an Al-Karim sebagai suatu karya kesusasteraan mengenai peristiwa yang terjadi atas seorang pelaku baik pada hakikatnya tidak ada ataupun benar-benar terjadi yang berkisar pada dirinya ataupun tidak, namun kisah itu disusun atas dasar seni yang indah, yang mendahulukan sebagian peristiwa dan membuang sebagian lagi, ataupun ditambahi dengan peristiwa yang tidak terjadi, sehingga penggambarannya keluar dari kebenaran yang sesungguhnya, menyebabkan terjadinya para pelaku fiktif. Sedangkan yang dimaksud dengan qashash Al-qur’an adalah pemberitaan mengenai keadaan umat terdahulu, nabi-nabi terdahulu, dan peristiwa yang pernah terjadi”.

Selain pengertian di atas, di dalam Makalah yang berjudul Urgensi Kisah dalam Al-Qur’an menurut Ilmu Psikologi ditulis oleh Ageng Pradhitya Yudha tahun 2008 dikatakan bahwa :
 “sejarah atau kisah dalam al-Qur’an juga merupakan kisah yang paling benar sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah.?” (QS.an-Nisa 4:87). Hal ini, karena kesesuaiannya dengan realitas sangatlah sempurna. Kisah al-Qur’an juga merupakan sebaik-baik kisah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT, “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu.” (QS.Yusuf/12:3). Hal ini karena ia mencakup tingkatan kesempurnaan paling tinggi dalam capaian balaghah dan keagungan maknanya. Kisah al-Qur’an juga merupakan kisah paling bermanfa’at sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.Yusuf/12:111). Hal ini, karena pengaruhnya terhadap perbaikan hati, perbuatan dan akhlaq amat kuat.

Di dalam Al-Qur’an sendiri banyak dikisahkan beberapa peristiwa yang pernah terjadi. Dari Al-Qur’an dapatlah kita ketahui beberapa kisah yang pernah dialami orang-orang jauh sebelum kita sejak Nabi Adam As, seperti kisah para Nabi dan kaumnya. Kisah orang-orang Yahudi, Nasrani, Sabi’in, Majuzi, dan lain sebagainya.

Selain itu, Al-Qur’an juga menceritakan beberapa peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah SAW, seperti kisah beberapa peperangan (Badar, Uhud, Hunain) dan perdamaian (Hudaibiyah) dan lain sebagainya. Meskipun Al-Qur’an yang didalamnya terdapat berbagai hikmah, namun diantara hikmah-hikmah tersebut adalah kisah pada Al-Qur’an, dengan mengambil contoh dalam kisah surat Al-Baqoroh ayat 67 yang berbunyi :
øŒÎ)ur tA$s% 4ÓyqãB ÿ¾ÏmÏBöqs)Ï9 ¨bÎ) ©!$# ôMä.âßDù'tƒ br& (#qçtr2õs? Zots)t/ ( (#þqä9$s% $tRäÏ­Gs?r& #Yrâèd ( tA$s% èŒqããr& «!$$Î/ ÷br& tbqä.r& z`ÏB šúüÎ=Îg»pgø:$# ÇÏÐÈ  
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil"[15].

Itulah beberapa pengertian sejarah Nabi dan kegunaan mempelajarinya yang penulis sajikan dalam tulisan ini.
6.      Metode Sinergetic Teaching
Adapun pengertian Mitode sebagaimana dijelas oleh Ramayulis di dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam sebagai berikut.
“Metode dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah srtategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna dengan baik”[16].

Kemudian pengertian Metode Sinergetik Teaching dijelas oleh Melvin L. Silberman di dalam bukunya Active Learning yang diterjemah oleh Raisul Muttaqien mengatakan sebagai berikut.
 “Metode Sinergetik (Synergetic Teaching) merupakan salah satu metode yang terdapat di dalam Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning Strategy) sebagaimana yang dikemukakan oleh Mel Silberman (2001), ia mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak. Sinergetik diambil dari kata sinergi yang artinya adalah melakukan kegiatan atau operasi gabungan. Metode Sinergetik Teaching (Synergetic Teaching) ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa membandingkan pengalaman-pengalaman (yang telah mereka peroleh dengan teknik berbeda) yang mereka miliki dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Guru membagi kelas menjadi dua kelompok.
b.      Salah satu kelompok dipisahkan ke ruang lain untuk membaca topik pelajaran.
c.       Kelompok yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan oleh guru.
d.      Selanjutnya, guru membalikkan pengalaman belajar siswa.
Guru memberikan pasangan masing-masing anggota kelompok pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran dari guru dengan tugas menyimpulkan /meringkas materi pelajaran”[17].

7.      Hubungan Metode Syinergetic Teaching dengan Hasil Belajar
Adapun hubungan prestasi belajar berupa penguasaan materi kisah Nabi melalui metode Synergetic Teaching adalah dimana prestasi belajar siswa berupa penguasaan kisah Nabi merupakan hasil yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Sedangkan metode Synergetic Teaching adalah  suatu cara atau teknik pembelajaran untuk memberi kesempatan kepada siswa membandingkan pengalaman-pengalaman yang mereka miliki atau yang telah mereka peroleh dengan teknik berbeda,  dengan cara memisahkan kelas menjadi dua kelompok, di mana kelompok yang pertama dipisahkan ke kelas lain untuk membaca topic pelajaran, kelompok yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan. Setelah itu mereka dipasangkan antara kelompok pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran dari guru dengan tugas menyimpulkan/meringkaskan materi pelajaran.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya penerapan metode Synergetic Teaching tersebut maka hasil-hasil belajar atau penguasaan siswa terhadap materi akan menjadi optimal. Makin tepat metode yang diberikan dan meningkat pula penguasaan siswa, maka akan makin berhasil pula pelajaran itu. Dan makin tinggi penguasaan siswa maka intensitas usaha belajar siswa akan tinggi pula. Jadi menerapkan metode yang tepat akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar siswa. Hal ini akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
B.  Penelitian yang Relevan
Adapun penelitian yang ditemukan di Internet yang ada hubungannya dengan penelitian penulis lakukan namun tidak sama dengan judul penulis adalah sebagai berikut :  
1.           Skripsi yang ditulis oleh  Ratih Bekti Pratiwi, dengan judul.

“Implementasi Metode Pembelajaran Synergetic Teaching Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar”.  PTK Pada Siswa Kelas VII Semester II SMP Negeri 2 Gondang yang disusun oleh: Ratih Bekti Pratiwi Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2010[18].

         Penelitian di atas bertujuan meningkatkan motivasi dan prestasi belajar pada pelajaran matematika di SMP walaupun sama-sama menggunakan metode Sinergetic Teaching.
2.      Skripsi yang ditulis oleh Nur Arif Darmawan, dengan judul.
“Peningkatan Partisipasi Dan Prestasi Belaja Siswa Melalui Metode Pembelajaran Bersinergi (Synergetic Teaching) Pada Materi Organisasi Kehidupan Siswa Kelas Vii-C Smp Piri Ngaglik Tahun Ajaran 2007/2008”  Skripsi 2009 oleh  Nur Arif Darmawan NIM. 04451054, Fakultas Sain dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta[19].
         Penelitian pada poin 2 di atas bertujuan meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar siswa pada materi organisasi kehidupan siswa walaupun sama-sama menggunakan metode Sinergetic Teaching. Jadi tidak sama dengan penelitian penulis.
3.      Skripsi yang ditulis oleh Ratmini A, dengan judul.

“Implementasi Pembelajaran Matematika Dengan Strategi Synergetic Teaching Dan Guided Teaching Ditinjau Dari Motivasi Belajar Siswa Pada Bangun Ruang Sisi Datar”   ( Pada Kelas VIII Semester II SMP Negeri 1 Sumberlawang ) Diajukan Oleh : Ratmini A 410 060 244 Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2010 [20].

         Penelitian pada poin 3 di atas bertujuan implementasi pembelajaran matematika di SMP meskipun sama-sama melalui metode Synergetic Teaching. Jadi, itulah beberapa judul penelitian yang penulis temukan yang kiranya relevan dengan judul penulisa lakukan, namun tidak ada satupun yang sama.
C.    Indikator Keberhasilan
         Adapun gambaran keberhasilan yang akan penulis dapatkan dalam melaksanakan tindakan kelas adalah sebagai berikut :
1.      Indikator Kinerja
Pada pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode Sinergetic Teaching, keberhasilan yang diharapkan adalah :
a.       Guru mampu menigkatkan penguasaan siswa terhadap materi kisah Nabi melalui metode Synergetic Teaching.
b.      Guru dapat melatih dan membiasakan siswa untuk berinteraksi dengan teman dan melatih mereka agar terbiasa berbicara di hadapan temannya di depan kelas.
c.       Guru dapat memberikan contoh dan teladan sikap kepada siswa melalui kisah atau sejarah para Nabi.
d.      Guru dapat mengetahui sejauh mana metode Sinergetic Teaching ini dapat digunakan pada siswa Sekolah Dasar.
e.       Melatih dan membiasakan guru dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran.
2.      Indikator Hasil
Keberhasilan penguasaan siswa terhadap materi sejarah/kisah Nabi di antaranya adalah siswa dapat :
a.       Menceritakan kisah Nabi Ayyub a.s dengan bahasanya sendiri.
b.      Menyebutkan cobaan-cobaan yang dialami Nabi Ayyub a.s.
c.       Menceritakan Kisah Nabi Musa a.s dengan bahasanya sendiri.
d.      Menyebutkan Mukjizat Nabi Musa a.s.
e.       Menceritakan kisah Nasbi Isa a.s dengan bahasanya sendiri.
Menyebutkan mukjizat Nabi Isa a.s.
D.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritis di atas dan fenomena yang terjadi dilapangan, maka penulis merumuskan hipotesissebagai berikut : “Melalui metode Sinergetik Teaching diharap dapat meningkatkan penguasaan  siswa pada pelajaran sejarah Nabi di kelas V SD 016 Muhammadiyah Karimun”.



[2] Kadar M.Yusuf, Tafsir Tarbawi, ( Pekanbaru:  Zanafa Publishing, Riau-2011), hal : 37, 44, dan 46.
[3] Ibid, hal : 17
[4] Tohirin, MS.M.Pd. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (edisi revisi, Sarana Mandiri Offset- 2003), hal : 60
[5] Hujair AH. Sanaky. Media Pembelajaran, (Safiria Insania Press,Yogyakarta 2009), hal : 3
[6] Ibid, hal : 37
[7] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (PT Remaja Rosdakarya-bandung 2010) Hal.22-23
[8]Ibid, Hal.22-23.
[9] Internet, http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/03/pengertian-definisi-hasil-belajar.html
[10] Internet, http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/03/pengertian-definisi-hasil-belajar.html
[11] Internet, file:///D:/pentingnya-mempelajari-sejarah.html
[12] Internet, http://chuzblog.blogspot.com/2011/07/kumpulan-pengertian-sejarah-menurut.html
[13] Internet, http://ridwanaz.com/umum/sejarah/pengertian-sejarah-pengertian-sejarah-menurut-beberapa-tokoh/
[14] Internet, http://ridwanaz.com/umum/sejarah/pengertian-sejarah-pengertian-sejarah-menurut-beberapa-tokoh/
[15] Internet, http://www.scribd.com/doc/5090963/Kisah-Menurut-Psikolog
[16] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Kalam Mulia-Jakarta 2002), hal:184
[17] Melvin L. Silbermen, Active learning, (Cetakan IV, Edisi Revisi, 2011, Nusamedia), hal.128
[18] Internet, http://etd.eprints.ums.ac.id/9802/1/A410060064.pdf
[19] Internet, http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=digilib-uinsuka--nurarifdar-1697
[20] Internet, http://etd.eprints.ums.ac.id/8403/1/A410060244.pdf

0 komentar:

Posting Komentar